Teori Kepemimpinan Menurut Ki Hajar Dewantara




Teori Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara
A.           Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan seseorang dalam suatu organisasi merupakan faktor terpenting dalam menentukan arah dan tujuan organisasi. Sebagaiman yang didefinisasikan oleh George R.Terry, pengertian kepemmpinan kemampuan mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja bersama dengan kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu kelompok. (George R.Terry, 2012: 152)
Dan menurut pendapat para ahli lainnya, pengertian kepemimpinan sebagai berikut:
a. kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch dan Behling).
b. kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikt serta dalam mencapai tujuan umum (H. Koontz dan C. Donnell).
c. kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama guna mencapai tujuan tertentu yang diinginkan (Ordway Tead). (M. Sobry Sutikno, 2014: 15-16).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
B.           Konsep Kepemimpinan Jawa
Konsep kepemimpinan jawa banyak dikenal dengan tembang yang memiliki makna yang dalam sebagai motivasi bagi kehidupan kita umumnya, khususnya jawa. Berikut ini tembang yang dikutip dari kitab serat wedhatama  yang memiliki nasehat- nasehat :
Nulada laku utama, tumrap wong tanah jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senapati, Kapati amarsudi, sudane hawa napsu, pinepsu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, Amamangun krya-nak tyasing sasami
·         (Teladanilah pola hidup yang utama, untuk orang Jawa, yakni: Orang besar di Mataram, Panembahan Senapati, yang memiliki kesungguhan hati menekan gejolak hawa nafsu, diusahaakan dengan bertapa brata, diwaktu siang dan malam, tujuanya adalah untuk memberikan kebahagiaan, kesejahteraan kepada sesama). (Ki Sabdacakrakatama, 2010: 28).
·      Konsep kepemimpinan Jawa:
a.      Manunggaling Kawula-Gusti Dalam Konsep Kepemimpinan Jawa = Kepemimpinan yang Berorientasi Kerakyatan.
·      Kupasan mengenai keberadaan pemimpin atau raja di Jawa adalah sesuatu yang agung dan keramat menurut Kartohadikoesoemo yang di kutip Yasasusastra, raja adalah bapa-babu rakyat; raja adalah lebih dari kepala, pemimpin, pemuka, dan panutan. Seorang raja dianggap memiliki kekuatan mistik. Antara raja dan rakyatnya terjalinlah ikatan mistik.
·      Di zaman dahulu bila rakyat menderita misalnya diserang wabah penyakit menular, maka raja melakukan tapa brata untuk menanges kersaning pangeran (memohon petunjuk dan pertolongan Tuhan), untuk mencegah dan melawan malapetaka tersebut. Menghadapi malapetaka yang melampaui batas kemampuan manusia, tidaklah cukup kiranya hanya dengan ikhtiar lahir, maka perlulah dilengkapi ikhtiar batin. Menurut alur nalar orang Jawa, timbulnya malapetaka antara lain disebabkan dosa manusia terhadap Tuhan. Berkaitan dengan hal itu maka raja sebagai bapa-baboning praja (bapak-ibu bagi negara beserta segenap rakyatnya) yang pertama-tama harus bertanggungjawab. Atas keinsyafan bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan segenap rakyatnya, maka raja lalu banyak berdoa dan memohon petunjuk serta pertolongan atau perlindungan dari penguasa alam semesta, agar segenap rakyatnya selalu terhindar dari segala penderitaan yang menimpanya. Tidak layaklah raja hidup berfoya-foya dan bersuka ria, sementara rakyatnya hidup dalam cekaman bencana dan penderitaan. Keterkaitan antara seorang pemimpin dengan Yang Maha Kuasa inilah yang menjadikan pola kepemimpinan dalam budaya Jawa bersifat agung dan sakral. Oleh karena itu, dalam mainstream kepemimpinan Jawa muncul istilah Manunggaling Kawula- Gusti.
b.      Konsep Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara
Konsep kepemimpinan Jawa lainnya yang juga cukup banyak diapresiasi adalah konsep kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara yang terdiri dari 3 aspek kepemimpinan yaitu:
·         Pertama, ‘ing ngarsa sung tuladha’.
Ing ngarsa sung tuladha adalah di depan memberikan teladan. Secara normative, seorang pemimpin memang diharapkan mampu menjadi teladan (contoh yang baik) bagi anak buah atau pengikutnya. Hal ini penting sebab jika sang pemimpin terlanjur melakukan, jangan salahkan jika pengikutnya juga akan melakukan kesalahan serupa.  (Wawan Susetyo, 2007: 56-57)
Menekankan peran seorang pemimpin sebagai tokoh yang harus bisa diteladani, yang harus bisa membimbing dan memberi arah ke mana organisasi hendak di bawa. Kalau dikaitkan dengan hasta brata maka konsep ini sama sengan sifat bintang dimana seorang peminpin harus bisa menjadi petujuk arah yang jelas.
·         Kedua, ‘ing madya mangun karsa’.
Artinya ditengah memberikan idea tau gagasan agar keadaan menjadi lebih maju. Pengertian “madya” disini identik dengan pejabat level menengah yang diharapkan mampu menuangkan gagasan dan ide-ide baru untuk mendukung program yang sudah ditetapkan, yakni untuk kemaslahatan rakyat.  (Wawan Susetyo, 2007: 58).
Berarti bahwa seorang pemimpin harus bisa membangkitkan semangat orang-orang  yang dia pimpin. Harus bisa membangkitkan gairah untuk mewujudkan kepentingan bersama. Seorang pemimpin adalah seorang motivator, seperti matahari yang mampu memberikan energi kepada semua mahluk hidup di bumi.
·         Ketiga, ‘tutwuri handayani’.
Artinya yang di belakang mendukung terhadap program yang telah ditetapkan. Ini merupakan harapan dari sikap rakyat secara keseluruhan.rakyat itu bisa bermakana bawahan sekaligus atasan pejabat. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah rakyat sebagai bawahan yang diharapkan tunduk dan patuh dalam mendukung dan melaksanakan kebijaksanaan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. (Wawan Susetyo, 2007: 59).
Seorang pemimpin harus mampu menyediakan kesempatan untuk berkembang bagi yang dipimpinnya.
Konteks “ing ngarso sung tulada” mengarah pada peranan sang pemimpin yang diharapkan mampu memberikan keteladanan yang baik kepada rakyat kecil. Misalnya, dalam kondisi krisis seperti sekarang ini, hendaknya para pejabat tidak menghambur-hamburkan uang Negara maupun pribadi, sebab akibatnya kurang positif. Sedangkan, “ing madya mangun karsa identik dengan pejabat di level menengah yang diharapkan mampu menuangkan gagasan dan ide-ide baru sesuai dengan aspirasi masyarakat untuk dijadikan program yang positif. Dan, dalam “tut wuri handayani” merupakan sikap dari rakyat kebanyakan. Rakyat itu bisa bermakna bawahan sekaligus sebagai atasan pejabat. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah rakyat sebagai bawahan yang diharapkan tunduk patuh dalam mendukung dan melaksanakan kebijaksanaan yang telah dikeluarkan pemerintah. 
c.       Hastha Brata
·      Secara etimologis kata Hasta Brata berasal dari bahasa Sansekerta, asta artinya delapan dan brata artinya laku atau pedoman. Hastha Brata adalah delapan nasihat, yang diambil dari watak para dewa berjumalah delapan dewa. Hastha Brata merupakan nasihat yang diberikan Rama Wijaya kepada Wibisana yang akan menggantikan kakaknya, Rahwana, menjadi raja Alengka. Disitu wibisana diperintahkan melindungi rakyat dan memulihkan kerajaan yang telah hancur karena perbuatan Rahwana. (Suwardi Endraswara,2013: 103).
Konsep kepemimpinan Hasta brata merupakan salah satu konsep yang cukup luas diapresiasi dan berasal dari naskah kuna Mahabarata. Menurut konsepsi ini maka seorang pemimpin harus meniru 8 sifat alam yang merupakan sifat inti seirang pemimpin dalam tradisi Jawa, yaitu:
1.      Laku hambeging candra: artinya bertindak seperti sinar purnama. Maksudnya, seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan bersinar terang benderang tetapi tidak panas.
2.      Laku hambeging dahana:  maknanya, seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan, sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi.
3.      Laku hambeging kartika: maknanya, seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan terhadap kehidupan.
4.      Laku hambeging kisma: maknanya, seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih dengan siapa saja. Kisma artinya tanah. Tanah tidak memperdulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas dengan air susu. Keburukan dibalas kebaikan dan keluhuran.
5.      Laku hambeging samirana: maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja.
6.      Laku hambeging samodra: maknanya, seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan.
7.      Laku hambeging surya: maknanya, seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang selalu menyinari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk.
8.      Laku hambeging tirta: seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. (Khakim, 2007:83-84). 
Konsep kepemimpinan hasta brata adalah salah satu referensi penting sebab di dalamnya mengandung Leadership power yang memiliki kelebihan sifat yaitu kemanusiaan yang manusiawi dari seorang pemimpin. Jika diteaalah  lebih mendalam , kajian tentang hasta brata di atas sebenarnya menyangkut dua hal. Pertama, kteladanan seorang pemimpin- prabu rama wijaya dan prabu sri bathara kresna yang mampu memimpin Negara dengn adil dan bijaksana sehingga namanya harum di mata rakyat. Kedua, dengan meneladani perwatakan delapan alam di atas membuat sang pelaku (pemimpin) secara otomatis masuk ke pendalaman wilayah spiritual-religius. Sebab, alam semesta itu merupakan ayat Tuhan yang tersirat. Sedangkan kitab Qur’an merupakan ayat Tuhan yang tersurat. Keduanya tidak bertabrakan melainkan berjalan secara selaras dan harmonis. (Wawan Susetyo, 2007: 59).

Komentar